Ritel Modern Harus Berikan Pendampingan ke Pedagang Tradisional

SIDOARJO-Keberadaan ritel modern seringkali dikeluhkan pedagang ritel tradisional. Masyarakat banyak yang memilih untuk berbelanja di ritel modern membuat ritel tradisional kehilangan pelanggan.

Untuk membuat keduanya tetap bertahan, Senin (29/4) salah satu ritel modern menggelar upgrading bisnis ritel modern dan sosialisasi diet kantong plastik di Gedangan.

Branch Manager salah satu ritel modern Sidoarjo Andon Swasono Putro, mengatakan, keberadaan ritel modern di tengah masyarakat, tidak saja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun juga bersinergi dengan pedagang ritel tradisional. “Agar bisnis kita tumbuh bersama,” ujarnya.

Andon menambahkan, kebanyakan toko tradisional tutup salah satunya karena dikejar sales kanvaser yang menawarkan produk baru. Padahal produk baru itu belum tentu laku, sehingga membuat toko menjadi tutup. “Karena itu ritel modern seharusnya membantu toko tradisional mengembangkan usahanya melalui program pendampingan,” bebernya.

Program pendampingan itu, mulai pelatihan manajemen hingga suplai barang. Sehingga pemilik toko tradisional tidak perlu buang waktu karena stok barang yang dijual, sudah disuplai. Di sela acara ini, juga diberikan materi soal diet kantong plastik.

Sementara itu, Member Relations Manager salah satu ritel modern di Sidoarjo Kudianto menjelaskan cara mengelola ritel UKM dengan pendekatan ritel modern. Diantaranya harus jeli mengelola persediaan. “Harus kita tentukan produk apa yang akan kita jual, yakni produk yang permintaannya banyak, dibeli lebih dari 60 persen pelanggan kita,” bebernya.

Selain itu, menjual produk yang memiliki keuntungan besar, yakni meraup untung lebih dari 30 persen. Cara lainnya, memperhatikan display barang. “Merek barang ditaruh menghadap ke depan. Produk disusun agar terlihat penuh. Cek tanggal kadaluwarsanya. Dan barang dipajang agar mudah dilihat oleh pembeli,” ujarnya.

Kudianto juga membagikan sejumlah tips agar usaha ritel kecil bisa berkembang. Yakni memisahkan modal dan keuntungan, memisahkan kebutuhan usaha dengan keperluan pribadi, menertibkan waktu buka dan tutup warung. “Biar calon pembeli dapat kepastian kalau mau datang,” tandasnya. (IH/MS)